Usai Perang Dagang dan Teknologi, Sri Mulyani Jadi Co-Chair Koalisi Menkeu Dunia, Perubahan Iklim Jadi Pertarungan Global

oleh -70 views

POLITIK-Menteri Keuangan (Menkeu)  Sri Mulyani Indrawati terpilih sebagai Co-Chair dari the Coalition of Finance Ministers for Climate Action (Koalisi) periode 2021-2023 menggantikan Menteri Keuangan Chile.

Pemilihan Co-Chair ini dilakukan melalui pemungutan suara yang diikuti oleh para Menteri Keuangan dari 52 negara anggota Koalisi untuk memilih satu di antara 3 Menteri Keuangan: Indonesia, Filipina dan Uganda pada (10/02).

Sebagaimana diumumkan oleh Sekretariat Koalisi, Indonesia akan menjalankan peran tersebut bersama dengan Finlandia sebagai Co-Chair Koalisi. Terpilihnya Menteri Keuangan Sri Mulyani menambahkan exposure, posisi strategis dan peran Indonesia yang kian penting di dunia internasional setelah penetapan Indonesia sebagai Presidensi G20 tahun 2022 dan Chairmanship ASEAN tahun 2023.

Terpilihnya Indonesia menjadi Co-Chair Koalisi mengafirmasi kepercayaan komunitas aksi perubahan iklim global yang besar pada Indonesia. “Indonesia dipercaya global untuk mengarahkan dan menangani masalah perubahan iklim. Hal ini tentunya tidak lepas dari berbagai aksi nyata mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia selama ini”, kata Sri Mulyani dalam keterangan resminya, Kamis (11/2).

Menkeu mengatakan, Indonesia memiliki komitmen yang kuat dalam upaya pengendalian perubahan iklim melalui berbagai kebijakan dan instrumen. Kebijakan dan instrumen terkait pendanaan antara lain penandaan APBN untuk perubahan iklim (budget tagging), pembentukan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) selaku pengelola beragam dana terkait kehutanan, energi dan sumber daya mineral, perdagangan karbon dan lainnya terkait lingkungan hidup di berbagai Kementerian/Lembaga.

Kemudian, pembentukan Pooling Fund Bencana (PFB) sebagai bagian dari strategi pendanaan dan asuransi risiko bencana atau disaster risk financing and insurance (DRFI), dan aktivasi instrumen pembiayaan inovatif seperti green sukuk.

Lupakan sejenak perang dagang dan teknologi. Pertarungan supremasi politik dan ekonomi global kini akan berfokus pada perubahan iklim.

Penelitian Bank of America Corp. mengatakan perubahan iklim akan menjadi tema terpenting dalam dekade ini, sama seperti teknologi yang menopang pertumbuhan ekonomi selama dekade terakhir.

Haim Israel, Kepala Penelitian Investasi Tematik Global Bank of America, mengatakan China telah menghabiskan dua kali lebih banyak dari Amerika Serikat untuk aksi iklim.

“Kami yakin strategi iklim menawarkan jalan menuju supremasi global. Baik melalui regulasi, batasan ekspor, tarif, atau investasi signifikan, kami yakin AS dan China akan melakukan apa pun untuk memimpin aksi iklim,” katanya dilansir Bloomberg, Selasa (9/2/2021).

Dia melanjutkan, dampak ekonomi dari perubahan iklim dapat mencapai US$69 triliun abad ini, dan investasi dalam transisi energi perlu ditingkatkan menjadi US$4 triliun setahun. Itu akan menghasilkan lebih dari US$100 miliar setahun dalam penelitian dan pengembangan.

Bank of America memperkirakan bahwa kapitalisasi pasar potensial bagi perusahaan yang menangani iklim menjadi sekitar US$6 triliun di berbagai bidang seperti energi terbarukan, kendaraan listrik, dan sektor lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). China mendominasi dalam kendaraan listrik dan baterai, sementara Eropa unggul dalam energi terbarukan.

“Hasil bersihnya kemungkinan adalah lebih banyak uang yang mengejar perusahaan yang memimpin transisi iklim, sementara yang lambat dalam perubahan iklim dapat menghadapi kendala pembiayaan atau penilaian yang lebih rendah,” kata Israel.

Titik-titik tekanan dalam perang iklim termasuk dominasi rantai pasokan, kebijakan manufaktur yang berfokus pada domestik, undang-undang terkait hak asasi manusia dan tarif perdagangan terkait karbon. Ketergantungan energi asing yang berkurang dan fokus pada ekspor teknologi bisa menjadi kunci.

Kapasitas angin dan matahari China masing-masing akan meningkat tiga dan empat kali lipat pada 2030. Bandingkan dengan AS, di mana kapasitas angin ditargetkan menjadi dua kali lipat dan tenaga surya tiga kali lipat. Baterai kendaraan listrik siap untuk berkembang empat kali di China pada 2025 dibandingkan tiga kali di AS.

Perlombaan negara adidaya untuk teknologi bersih berarti minyak dan mobil mesin pembakaran internal akan mencapai puncaknya dekade ini.

“Ketegangan dapat meningkat melalui dominasi China dalam rantai pasokan tenaga surya dan produksi logam tanah yang langka, kebijakan yang berfokus pada domestik seperti ‘Made in America,’ dan dorongan Eropa untuk rantai pasokan baterai kendaraan listrik lokal,” lanjutnya.

Laporan Israel menggarisbawahi pernyataan miliarder Jeremy Grantham, yang mengatakan pada November lalu bahwa energi hijau tidak hanya akan menjadi penting secara ekonomi dalam beberapa dekade mendatang, tetapi sangat penting secara geopolitik.

Grantham menyarankan AS memulai program pekerjaan umum besar yang mirip dengan Marshall Plan untuk menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi dan ancaman yang disebabkan oleh pemanasan global.

Sejauh ini, China dan AS memimpin upaya ini dalam dekade terakhir, sementara Eropa tertinggal. Namun itu bisa berubah mengingat kepemimpinan Benua Biru dalam kebijakan iklim, dengan kawasan itu menjadi rumah bagi 70 persen aset reksa dana ESG, dan memiliki peraturan hijau yang maju. Delapan dari 10 perusahaan teknologi bersih global terbesar berbendera Eropa.

Mengingat puncak minyak dapat mencapai dekade ini karena penetrasi kendaraan listrik semakin cepat, Eropa akan menghasilkan 85 persen dari semua energinya dari sumber terbarukan, dibandingkan dengan sekitar 50 persen di China.

Dia melanjutkan, medan pertempuran berikutnya untuk supremasi geopolitik setelah iklim adalah luar angkasa, dengan pencitraan satelit dan kunci eksplorasi untuk pemantauan dan penelitian iklim.

Sementara itu, ruang angkasa selalu menjadi domain persaingan negara adidaya yang dipicu oleh Perang Dingin, fokus iklim, telekomunikasi, dan teknologi generasi keenam dapat mengintensifkan ini dan menandai fase berikutnya dari ketegangan AS-China dan seterusnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


  • Notice: Undefined offset: 0 in /home/radarcirebon.com/html/wp-includes/class-wp-query.php on line 3421

  • Notice: Undefined offset: 0 in /home/radarcirebon.com/html/wp-includes/class-wp-query.php on line 3421

  • Notice: Undefined offset: 0 in /home/radarcirebon.com/html/wp-includes/class-wp-query.php on line 3421

  • Notice: Undefined offset: 0 in /home/radarcirebon.com/html/wp-includes/class-wp-query.php on line 3421

No More Posts Available.

No more pages to load.