Susul India, Corona Ngamuk di Kawasan Asean

oleh -118 views
Aparat Malaysia melakukan pemeriksaan terhadap pengguna kendaraan dalam penerapan pembatasan pergerakan warga demi mencegah penularan Covid-19. (Foto Bernama).

POLITIK-Lonjakan kasus Covid-19 tidak hanya dialami India. Negara-negara ASEAN mengalami hal yang sama. Hal itu menyebabkan tekanan berat bagi negara dengan sistem kesehatan yang belum memadai.

Dilansir dari Bloomberg, sejumlah negara di Asia Tenggara menunjukkan gelombang kedua Covid-19 mulai April-Mei ini.

Beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, Laos, Thailand hingga perbatasan melaporkan peningkatan kasus yang signifikan akibat penularan virus dari mutasi Covid-19.

Malaysia kembali menerapkan pembatasan gerak atau MCO (Movement Control Order) alias Perintah Kawalan Pergerakan (PKP) setelah angka penularan Covid-19 meningkat selama dua pekan terakhir.

Dalam MCO, pasar Ramadan akan ditutup. Sekolah bakal tutup dan kegiatan sosial serta agama dilarang.

Sementara, Singapura juga mengumumkan sejumlah pembatasan. Termasuk larangan penonton di acara olahraga karena lonjakan kasus infeksi virus Corona di negara itu.

Setelah lockdown parsial dan tes serta pelacakan kontak, Covid-19 hampir menghilang di Singapura. Sayangnya, kasus-kasus infeksi meningkat pekan lalu. Pemerintah mengumumkan beberapa cluster baru. Dalam tujuh hari terakhir, 60 kasus infeksi yang ditularkan secara lokal telah dilaporkan.

Seperti dilansir AFP, kemarin, dengan pembatasan baru yang diumumkan, Selasa (4/5), maka pertemuan kelompok dibatasi lima orang saja. Orang-orang akan diminta untuk bekerja dari rumah.

Gym dalam ruangan dan studio kebugaran akan ditutup. Jumlah orang yang boleh hadir juga akan dikurangi untuk konferensi, pernikahan dan pemakaman.

Selain itu, wisatawan yang datang dari sebagian besar negara akan diminta untuk karantina selama tiga pekan, bukan dua pekan.

“Beberapa pekan ke depan akan menjadi masa kritis bagi kita,” kata Menteri Kesehatan Singapura Gan Kim Yong.

Jumlah kasus infeksi Singapura sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Tetapi kemunculan klaster baru telah menimbulkan kekhawatiran di Negeri Singa itu, yang ekonominya mengalami resesi terburuk tahun lalu karena Covid-19.

Sedangkan di Laos, Kementerian Kesehatan tengah mencari tambahan suplai alat kesehatan dan pengobatan seiring dengan kasus baru yang bertambah hingga 200 kali lipat dalam sebulan. Hingga saat ini, Laos mencatat lebih dari 966 kasus dengan nol kasus kematian.

Dilansir Hanoi Times, kemarin, 60 orang di antaranya sudah dinyatakan sembuh.

Perdana Menteri Laos Phankham Viphavanh menetapkan kebijakan lockdown untuk ibu kota dan menutup transportasi internasional sejak 22 April setelah mengidentifikasi adanya Cluster Covid-19 yang berhubungan dengan Thailand.

Thailand juga mengalami masalah serupa. Sejumlah rumah sakit mengalami tekanan akibat kenaikan kasus Covid-19. Bahkan, 98 persen kasus barunya berasal dari jenis virus yang lebih menular.

Dilansir dari Bangkok Post, Kementerian Kesehatan Publik Thailand melaporkan 2.041 kasus baru pada Senin (3/5) dengan 31 kematian.

Angka tersebut naik hampir dua kali lipat setelah mencatatkan kematian sebanyak 21 orang pada akhir pekan lalu. Kasus baru di Thailand kebanyakan berasal dari varian B.1.1.7 yang pertama kali terdeteksi di Inggris.

“Ini berarti kita sedang ada dalam tahap krisis,” kata Dekan Fakultas Kedokteran Rumah Sakit Siriraj Prasit Watanapa.

Di Kamboja, lebih dari 10.000 transmisi lokal ditemukan di 20 provinsi. Hal itu membuat Ibu Kota Phnom Penh menyatakan status zona merah atau area dengan risiko tinggi.

Data Bloomberg menunjukkan, terdapat 11.974 kasus dan 604 kasus kematian di Kamboja hingga Sabtu (2/5). Walau ada kenaikan hingga 841 kasus pada Senin (3/5), lockdown di Kamboja hanya akan diterapkan pada daerah-daerah yang memiliki tingkat infeksi tinggi.

Di India, warga dan pemerintah tengah berjibaku menghadapi Covid-19. Kematian akibat virus itu di India bahkan mencapai rekor 3.780 kematian dalam 24 jam terakhir. Sehari setelah India menjadi negara kedua di dunia setelah Amerika Serikat yang melewati tonggak sejarah 20 juta kasus infeksi Covid-19

Seperti dilansir Reuters dan Channel News Asia, kemarin data Kementerian Kesehatan menunjukkan, jumlah kasus infeksi harian mencapai 382.315 kasus pada Rabu (5/5). (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.