Merawat Cagar Budaya, Polmah Kraton Kasepuhan: Mempertahankan dan Menjaganya Tidaklah Mudah

oleh -28 views
Polmah Kraton Kasepuhan, Rahardjo Djali

POLITIK-Pemeliharaan cagar budaya di Indonesia menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya, ketersediaan sumber daya manusia (SDM). “Kekayaan budaya itu sebetulnya menjadi modal dasar sebagai jati diri kebudayaan kita,” ungkap Polmah Kraton Kasepuhan Rahardjo Djali, Rabu (7/7).

Menurutnya, peninggalan cagar budaya dibagi menjadi lima jenis berdasarkan bentuknya, yaitu benda cagar budaya, struktur cagar budaya, bangunan cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya.

“Bangunan cagar budaya, menjadi salah satu bukti sejarah dalam pembentukan jati diri dan perkembangan suatu daerah. Seperti di Kota dan Kabupaten Cirebon, banyak peninggalan bangunan cagar budaya yang ada, namun kondisinya perlu perhatian dan pemugaran agar bisa tetap dilestarikan,” katanya.

Diantaranya, Keraton Kasepuhan Cirebon menjadi keraton tertua di Indonesia. Tentu mempertahankan dan menjaganya tidaklah mudah.

“Keraton Kasepuhan ini menjadi yang tertua di Indonesia. Bata merah di depan Keraton itu arsitektur Majapahit, di depannya ada Masjid Agung Sang Cipta Rasa, di mana masjid ini dibangun pada 1480 M. Saat itu Sunan Gunung Jati telah mempersunting Nyi Mas Pakungwati. Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan aktualisasi rasa cinta Sunan Gunung Jati atau Syekh Maulana Syarif Hidayatullah kepada istrinya. Ya, Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan hadiah bagi Nyi Mas Pakungwati,” paparnya.

Di ruang utama masjid terdapat dua tempat khusus bagi keluarga kesultanan Cirebon, yakni persis di samping tempat imam dan saf paling belakang. Tempat khusus bagi keluarga kesultanan ini dikelilingi dengan pagar kayu, tingginya sekitar 50 sentimeter.

Rahardjo Djali mengatakan arsitektur masjid merupakan percampuran antara Islam dan Hindu. Sebab, lanjut dia, Sunan Gunung Jati menunjuk dua arsitek hebat untuk membangun Masjid Agung Sang Cipta Rasa, yakni Sunan Kalijaga dan Raden Sepat dari Kerajaan Majapahit.

Masjid ini merupakan tempat ibadah kedua yang dibangun di Cirebon, setelah Masjid Pejlagrahan, tak jauh dari Sang Cipta Rasa. Ukuran masjid pertama yang dibangun Pangeran Cakrabuana (Mbah Kuwu Cirebon) yang lebih kecil, menjadi salah satu dasar pembangunan Sang Cipta Rasa. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.