Mengejutkan, Anggota Komisi I DPR Ungkap Sosok Wanita ke Markas FPI Ternyata Staf Bundesnachrichtendienst (BND) Intelijen Jerman

oleh -124 views
Anggota Komisi I DPR, M. Farhan (Tangkapan layar YouTube medcom.id)

JAKARTA-Masih ingat, saat perwakilan Kedutaan Besar Jerman mengunjungi kantor Sekretariat FPI di Petamburan, Jakarta Pusat, Kamis (17/1) ?

Sekretaris Umum Front Pembela Islam (Sekum FPI), Munarman menyampaikan pihak Kedubes Jerman menyampaikan rasa duka mendalam kepada FPI atas peristiwa tewasnya enam laskar di Tol Jakarta-Cikampek KM 50 Karawang, Jawa Barat.

Selang beberapa waktu kemudian, Kedutaan Besar Jerman berikan klarifikasi terkait perwakilannya yang mendatangi markas FPI di Petamburan, Jakarta Pusat.

Dalam keterangan tertulisnya, pihak kedubes membenarkan yang datang pada Jumat (18/12) adalah pegawai mereka.Kedubes Jerman mengatakan, kedatangan perwakilan mereka untuk memastikan jalannya Aksi 1812 yang menuntut pembebasan Habib Rizieq. Sebab, diperkirakan massa akan melewati kantor mereka yang berada di Jalan MH Thamrin, Menteng, Jakarta Pusat.

“Sehubungan dengan pemberitahuan mengenai demonstrasi yang berlangsung pada hari Jumat, 18 Desember 2020, salah seorang pegawai Kedutaan Jerman berusaha untuk mendapatkan gambaran tersendiri mengenai situasi keamanan yang bersangkutan karena demonstrasi juga dapat melintasi kawasan Kedutaan,” tulis keterangan tersebut, Minggu (20/12).

Tanggal 27 Desember 2020, dalam diskusi daring bertajuk Teka-teki Telik Sandi di Markas FPI, Anggota Komisi I DPR, M. Farhan mengungkapkan Suzanne Hall seorang mata-mata.

Farhan dapat data jika Suzanhol tercatat di Bundesnachrichtendienst (BND), sebuah lembaga intelijen Jerman.

Baca: Bundesnachrichtendienst BND, Dinas Intelijen Jerman Terlibat Gerakan September Kelabu?

“Ternyata ketika dilakukan penyelidikan ke beberapa sumber kita di Berlin langsung, ini nama perempuannya Suzanhol dia adalah bukan pula pegawai pemerintah tercatat di Kementerian Luar Negeri Jerman. Dia tercatat sebagai pegawai di BND. BND itu Badan Intelijen Jerman,” kata Farhan dalam diskusi daring, Minggu (27/12/2020).

Dugaan bahwa perwakilan Kedubes Jerman bukan merupakan diplomat melainkan mata-mata ialah lantaran permintaan persona non grata terhadap perempuan yang bersangkutan tidak dipenuhi oleh Kedubes Jerman. Pihak Jerman hanya sebatas memulangkan yang bersangkutan ke negara asal.

“Kita minta udah persona non grata. Tidak dijalankan persona non grata-nya. Ternyata dia memang tidak bisa di-persona non grata karena dia bukan diplomat,” kata Farhan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *