Kisah Perairan Indonesia Menyimpan Harta Karun, 640 Titik Kapal Karam, 463 Teridentifikasi, Termasuk Utara Jawa Cirebon

oleh -14 views
Salah satu koleksi dari barang muatan kapal tenggelam (BMKT) milik Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan (PANNAS) BMKT KKP. Foto : Dirjen PRL KKP/mongabay.co.id

POLITIK-Kedalaman samudra Indonesia yang membentang luas dari Sumatera ke Papua, menyimpan kekayaan alam melimpah. Bukan cuma hasil ikan, tapi juga “harta karun” yang terpendam bersama kapal-kapal karam.

Baca: Perairan Indonesia Bakal Ramai Kapal Asing Pengeruk Harta Karun, Begini Aturannya

Menyelam ke dasar laut di kedalaman 20-70 meter, jika beruntung, kita akan menemukan tumpukan harta karun dari kapal-kapal yang karam di perairan Indonesia atau disebut Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT).

Direktur Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Ruang Laut KKP, Brahmantya Satyamurti memastikan dari 640 titik kapal karam di perairan Indonesia, sekitar 463 telah teridentifikasi menyimpan harta karun.

“Setelah dihitung, ada 463 titik yang teridentifikasi ada harta karun atau BMKT di bawah laut,” ucapnya di liputan6.com, dikutip politik.radarcirebon.com, Kamis (4/3).

Menurut Brahmantya, titiknya di Pulau Selayar (Sulawesi Selatan), Kelarik (Kepulauan Riau), Cirebon, Pulau Anambas (Kepulauan Riau).

Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP juga pernah merilis jumlahnya diperkirakan mencapai 200 ribu item dan berasal dari 10 kali pengangkatan di bawah 2010 atau sebelum moratorium pengangkatan BMKT diberlakukan.

Di antara kekayaan BMKT yang sudah diangkat itu, terdapat harta karun yang diangkat dari perairan Pantai Utara Jawa Cirebon dan bernilai sedikitnya Rp239 miliar. Selain dari Cirebon yang merupakan harta karun dari Five Dynasty di abad 9 (907-960) masehi. Direktur Jasa Kelautan Direktorat Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Riyanto Basuki menyebutkan

benda yang sudah masuk galeri berasal dari pengangkatan BMKT dari perairan Batu Hitam, Bangka Belitung yang diketahui milik Dinasti Tang di abad 6-9 (618-906) masehi.

“Dan ada juga dari Dinasti Song abad 11 sampai 12 masehi yang diangkat dar perairan Kepulauan Riau. Itu diangkat dari Pulau Buaya dan diperkirakan berasal dari tahun 960 sampai 1.279 masehi,” jelasnya di mongabay.co.id dikutip politik.radarcirebon.com, Kamis (4/3).

Dari seluruh benda yang dipamerkan di galeri, kata Riyanto, jumlahnya diperkirakan mencapai 1.000 koleksi item. 

Baca: Jokowi Izinkan Investor Asing Angkat Harta Karun Bawah Laut, Susi Pudjiastuti: Kita Kehilangan Benda Bersejarah

Sejarah mencatat sejak abad ke-7 hingga abad ke-19 perairan Nusantara telah menjadi kuburan bagi bangkai kapal-kapal yang tenggelam. Mereka berasal dari kapal-kapal dagang Cina (dari berbagai dinasti), kapal-kapal Verenigde Oost-lndische Compagnie (VOC), Belanda, Portugis, Spanyol, Inggris, dan Jepang. Serta kapal-kapal lainnya.

Sudah ribuan kapal mengalami nasib buruk sampai akhirnya karam karena berbagai sebab, seperti tak kuasa menghadapi badai dan cuaca buruk kurangnya pengetahuan navigasi geografis pelayaran sehingga kapal menabrak karang dan lain sebagainya.

Kapal-kapal karam berikut muatannya yang dikenal sebagai Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam (BMKT) atau biasanya disebut oleh masyarakat sebagai “Harta Karun Bawah Laut” Benda berharga tersebut disebut juga sebagai cagar budaya bawah laut dan menjadi milik Negara yang menguasai wilayah tersebut.

Dalam pengertian yang luas, warisan budaya diartikan sebagai benda-benda artistik, sastra, arsitektural, bersejarah, arkeologikal, etnologikal, pengetahuan atau teknologi baik bergerak dan tidak bergerak yang mewujudkan nilai suatu bangsa.

Pada abad ke-16 bahwa letak jalur perdagangan banyak terjadi di kawasan Asia Tenggara. Selat Malaka dan Selat Bangka adalah jantung lalu lintas kapal dari berbagai penjuru dunia. Muatan yang diangkut kapal yang melintas di perairan pada saat itu sangat beragam dari rempah – rempah, sutra, keramik, batu permata dan senjata. Sementara itu, kondisi teknologi pelayaran pada zaman itu belum cukup mumpuni.

Masih berbekal peta yang jauh dari kata akurat, para nahkoda yang harus menghadapi jalur pelayaran yang sarat akan jebakan batu karang. Begitupun teknologi komunikasi yang digunakan pun masih ala kadarnya. Jadi, tak sedikit kapal yang menabrak batu karang dan akhirnya tenggelam. Bangkai kapal pun terkubur didasar laut bersama dengan muatan berharga.

Diperdalam oleh Tony Wells dalam bukunya, Shipwrecks & Sunken Treasure in Southeast Asia yang terbit tahun 1995, menjelaskan bahwa sedikitnya ada 185 kapal yang karam diperairan Nusantara atau 41 % dari total kapal karam di seluruh perairan Asia Tenggara. Wells juga menjelaskan bahwa kapal dari berbagai macam penumpang, militer maupun kerajaan yang datang ke Nusantara berasal dari berbagai daerah seperti, Portugis, Belanda,Cina, Amerika, Jerman dan Inggris. Mereka melayari melalui jalur utama seperti, Selat Bangka, Selat Gaspar, Laut Jawa, perairan Ambon, Bali, Sumatra, Flores, Sulawesi dan Irian.

Dan tak sedikit kapal yang menemui nasib nahas. Dari Selat Bangka dan Selat Gaspar menenggelamkan 43 kapal pada pertenghan abad ke-16 sampai abad ke-19. Prins Willem Hendrick adalah contoh kapal yang menabrak karang di Selat Bangka. Kapal Belanda ini bertolak dari Siam, September 1686, dengan membawa 400 penumpang dan 400 ribu koin emas. Dalam musibah ini, hanya enam awak yang selamat, termasuk Captain Andriaan van Kreningen. Belakangan, sang Kapten dihukum gantung di Batavia atas kecerobohannya mengemudikan kapal.

Dari tahun 1502 sampai 1852, di perairan Sumatra tenggelam 27 kapal. Salah satunya masih menjadi legenda dikalangan pemburu harta karun : Flor de la Mar yang karam pada akhir tahun 1511. Kapal Portugis yang berlayar di Lisabon ini dinahkodai Admiral Alfonso de Albuquerque berhasil menyelamatkan diri.

Namun, 400 penumpang lainnya tenggelam bersama kapal Flor. Yang membuat para pemburu harta tergiur dan penasaran, Flor memuat hasil pampasan perang tentara Portugis. Harta pedagang kaya raya dan keluarga kerajaan Malaka dikuras masuk ke kapal. Tak kurang dari 60 ton perhiasan emas dan pertama dalam berbagai ukuran dan bentuk berada di lambung Flor. Termasuk dalam muatan yang spektakuler ini adalah seperangkat mebel dan perabotan rumah tangga bersepuh emas milik Sultan Malaka. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.