COVID-19, Konspirasi, dan Ketahanan Teknososial

oleh -19 views
Ketakutan terhadap pandemi Covid-19 (Sumber: www.pexels.com)

PANDEMI Coronavirus (COVID-19) di Indonesia telah memasuki bulan ke-6 sejak kasus pertama diumumkan oleh pemerintah pada bulan Maret lalu.  Munculnya pandemi merupakan sesuatu yang baru dihadapi oleh pemerintah maupun masyarakat sehingga berdampak secara luas terhadap berbagai aspek kehidupan.

Beragam reaksi bermunculan di publik, baik oleh pejabat publik, akademisi, politikus, influencer, hingga warganet. Alhasil, berbagai informasi semakin riuh berseliweran di media sosial dan menyiratkan kepanikan yang sedang dihadapi.

Di antara beberapa informasi yang beredar di media sosial, sebagian menggiring narasi yang mengarah pada rasa ketidakpercayaan terhadap pandemi dan tenaga kesehatan yang bekerja di garda terdepan. Narasi tersebut dikemas melalui informasi hoax, ujaran kebencian, hingga konspirasi. Istilah yang disebutkan terakhir sedang menghiasi lini-masa Twitter dan menghebohkan jagat maya.

Teori konspirasi mengenai pandemi COVID-19 dimulai dengan isu virus yang sengaja disebarkan dari sebuah laboratorium di Wuhan, Tiongkok. Konspirasi lain menyebutkan bahwa Bill Gates adalah pihak yang terlibat dalam upaya penyebaran virus untuk memproduksi vaksin sebagai ladang bisnis.

Di Indonesia, konspirasi pandemi COVID-19 menjadi perbincangan ketika pernyataan-pernyataan demikian disuarakan oleh orang-orang yang memiliki popularitas tinggi dan menjadi pusat perhatian di media sosial serta media massa.

Konspirasi seperti dugaan komersialisasi rapid test, hingga rekasi pengingkatan kasus dalam masa krisis banyak ditemukan di media sosial. Belum ada pihak yang mampu memverifikasi kebenaran dari pernyataan-pernyataan miring tersebut.


Kondisi krisis memang menghadirkan banyak pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab, oleh karena itu, konspirasi yang menghadirkan jawaban alternatif, dapat memberikan klaim secara subjektif dan asumtif yang mudah diterima dan terdengar masuk akal sehingga, tidaklah mengherankan apabila teori konspirasi menghebohkan dan mempengaruhi publik.

Teori konspirasi menawarkan cara menegosiasikan pemisah antara kehidupan sehari-hari dan struktural secara global (Johnson-Schlee, 2019). Mereka yang mempercayai teori konspirasi memandang fenomena sosial yang rumit dengan sengaja dirancang secara kolektif oleh aktor-aktor yang memiliki kuasa (Mancosu et al., 2017).

Konspirasi bumi datar, pendaratan di bulan, serta tragedi 9/11 menunjukkan argumentasi yang lemah data dan menggiring narasi keterlibatan aktor-aktor elit global yang mengendalikan dunia. Argumen seperti itu juga terjadi pada teori konspirasi COVID-19 yang meragukan kebenaran pandemi ini.

Mudahnya seseorang mempercayai konspirasi, juga didorong oleh kecemasan dan ketakutan individu terhadap kondisi dunia. Perasaan cemas, paranoid, dan perasaan tidak berdaya yang diekspresikan melalui teori konspirasi untuk menarik perhatian individu (Green & Douglas, 2018; Uscinski, Klofstad, & Atkinson, 2016).

Disamping itu, kecemasan dan rasa tidak aman disebabkan oleh tanggapan negatif terhadap pemerintah sehingga mengarah pada asumsi konspirasi (Georgiou et al., 2020; Madalina, 2015). Kondisi pandemi yang datang secara cepat dan tiba-tiba membuat masyarakat merasa cemas dan ketakutan sehingga teori konspirasi dianggap sebagai penawar dalam menjawab keresahan yang dirasakan.

Kecemasan dan ketakutan diperburuk dengan rendahnya literasi sehingga  menjadikan teori konspirasi semakin mudah dipercayai. Era post-truth saat ini juga mempersulit upaya literasi, sebab media sosial menyuguhkan informasi yang bias dan menggugah emosi publik melalui clickbait, hoax, dan misinformasi. Sehingga pengguna internet dituntut untuk memiliki pemikiran yang jernih dan analitis dalam mencerna setiap informasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.