Banyak Terbitkan Surat Utang, Bisa Lebih Parah Dari Krisis Ekonomi 98

oleh -62 views
Bank Indonesia. (Foto : Dok. Bank Indonesia)
Bank Indonesia. (Foto : Dok. Bank Indonesia)

POLITIK-Bank Indonesia (BI) me­laporkan posisi cadangan de­visa Indonesia akhir Juni 2021 tercatat 137,1 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 1.999 triliun (kurs Rp 14.500).

Kepala Departemen Komu­nikasi BI Erwin Haryono me­nyampaikan, posisi cadangan devisa tersebut meningkat jika dibandingkan dengan posisi akhir Mei 2021 sebesar 136,4 miliar dolar AS.

“Posisi cadangan devisa itu setara pembiayaan 9,2 bulan impor, atau 8,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah,” kata Erwin dalam pernyataan di Jakarta, kemarin. Posisi ini be­rada di atas standar kecukupan internasional.

Erwin menjelaskan, pening­katan posisi cadangan devisa pada Juni 2021, antara lain dipengaruhi oleh penerbitan sukuk global pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa.

BI menilai, cadangan de­visa tersebut mampu mendu­kung ketahanan sektor ekster­nal serta menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan.

Ke depan, cadangan de­visa tetap memadai dan akan menjadi faktor penting bagi ketahanan eksternal ekonomi nasional.

Pengamat kebijakan ekono­mi Rissalwan Lubis menga­takan, peningkatan devisa negara dari hasil penjualan Surat Berharga Negara (SBN) dan Sukuk bisa berdampak negatif bagi perekonomian.

“Bisa dibilang ini hanya cadangan fiktif. Bisa jadi dananya belum ada, baru sebatas data saja,” kata Rissalwan kepada Rakyat Merdeka, ke­marin.

Menurut Rissalwan, skema penambahan devisa negara dari penjualan surat utang juga sangat berbahaya. Dia men­contohkan, jika pada kondisi tertentu negara membutuhkan pemanfaatan cadangan devisa untuk kebutuhan mendesak, sementara dananya tidak men­cukupi, itu menyebabkan per­ekonomian lumpuh.

“Ini bisa lebih parah dari krisis ekonomi tahun 1998. Karena itu, penambahan de­visa dari surat utang sangat tidak dianjurkan,” sarannya.

Seperti diketahui, pada Juni lalu Kementerian Keuangan melakukan transaksi pen­jualan sukuk global sebesar 3 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp 42,73 triliun (kurs Rp14.245) dengan tingkat imbal hasil terendah.

Ini dilaksanakan sejalan dengan strategi pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta komitmen pemerintah mengembangkan dan meningkatkan likuiditas pasar sukuk di kawasan Asia.

Transaksi tersebut terdiri atas 1,25 miliar dolar AS dengan tenor 5 tahun, 1 miliar dolar AS dengan tenor 10 tahun, dan 750 juta dolar AS dengan tenor 30 tahun (seri Green). (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.